Tangalla, Gowa hari ini dipenuhi suasana sakral dan meriah. Putra Tetta Kaharudding Daeng Masang, Mahir Kahar, yang dikenal sebagai bagian dari tim sukses Walikota Makassar Mulia, resmi melangsungkan pernikahan dengan penuh khidmat dalam balutan adat Makassar.

Prosesi pernikahan mengikuti tradisi leluhur yang kaya makna. Dimulai dengan mappacci, ritual penyucian diri yang melambangkan doa restu keluarga agar pengantin memasuki kehidupan rumah tangga dengan hati bersih. Setelah itu, pengantin pria mengenakan songkok recca dan sarung sutra khas Makassar, simbol kehormatan dan martabat. Sementara pengantin wanita tampil anggun dengan baju bodo, busana tradisional yang menjadi kebanggaan perempuan Bugis-Makassar.

Acara semakin semarak dengan iringan musik tradisional dan tarian adat yang menegaskan identitas budaya Makassar. Kehadiran keluarga besar, kerabat, serta tokoh masyarakat memperlihatkan nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi dalam tradisi pernikahan.

Dalam adat Makassar, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga pengikat silaturahmi antar keluarga besar. Nilai siri’ na pacce—harga diri dan solidaritas—terlihat jelas dalam setiap tahapan acara, menjadikan momen ini bukan hanya perayaan cinta, tetapi juga perayaan budaya.

Dengan doa restu dari keluarga dan masyarakat, diharapkan rumah tangga yang baru dibangun ini menjadi sakinah, mawaddah, dan penuh keberkahan, sekaligus menjadi teladan bagi generasi muda dalam menjaga tradisi Makassar di tengah arus modernitas.