Soppeng, Canvas.news, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Soppeng kembali disorot. Bukan soal menu atau jumlah penerima manfaat, melainkan persoalan sampah yang disebut masih luput dari pengawasan di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ketua LSM Saluran Informasi dan Investigasi Korupsi (SIDIK), Mahmud Cambang, mempertanyakan keseriusan pengawasan terhadap pengelolaan sampah di lingkungan SPPG.

Menurutnya, program berskala besar seperti MBG tidak cukup hanya dinilai dari makanan yang sampai ke penerima manfaat. Persoalan yang muncul setelah proses memasak dan distribusi makanan, termasuk sisa pangan dan sampah dapur, juga harus menjadi bagian dari pengawasan.

Mahmud mengklaim masih menemukan SPPG di Kabupaten Soppeng yang belum menerapkan sistem pengelolaan sampah secara optimal. Ia menyoroti adanya sampah yang disebut hanya ditumpuk di sekitar lokasi atau bahkan berada di pinggir jalan.

“Seharusnya sampah yang berasal dari SPPG sudah dipisahkan dan dikelola sesuai jenisnya. Tetapi kenyataannya, masih ada SPPG yang hanya menyimpan atau menumpuk sampah di pinggir jalan tanpa melalui proses pengelolaan dan pemilahan,” ujar Mahmud kepada media Canvas.news, Rabu (7/10/2026).

Ia mempertanyakan bagaimana pengawasan terhadap SPPG dilakukan apabila persoalan dasar seperti sampah masih ditemukan.

Mahmud merujuk pada Peraturan Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 1 Tahun 2026 tentang Sisa Pangan, Sampah, dan Air Limbah Domestik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengatur aspek pengelolaan sisa pangan dan sampah dalam operasional SPPG.

Menurutnya, regulasi tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pencegahan dan penyelamatan sisa pangan atau food loss and waste. SPPG juga disebut perlu melakukan pendataan volume sisa pangan setiap hari berdasarkan kelompok makanan, termasuk karbohidrat, protein, sayur, dan buah.

“Jangan sampai aturan sudah dibuat, tetapi implementasinya di lapangan justru berbeda,” tegas Mahmud.

Ia menilai pengelolaan sampah merupakan bagian tidak terpisahkan dari keberhasilan MBG. Jika tidak ditangani dengan baik, aktivitas dapur yang setiap hari memproduksi makanan dalam jumlah besar berpotensi menghasilkan volume sampah yang juga besar.

Mahmud menjelaskan, pemilahan seharusnya dilakukan sejak sampah dihasilkan. Sampah organik dan nonorganik perlu dipisahkan untuk kemudian dikelola sesuai karakteristiknya, sedangkan residu dapat ditangani melalui mekanisme pengangkutan persampahan pemerintah daerah.

“Kalau sampah dari SPPG sudah dipilah antara organik dan nonorganik, maka yang seharusnya masuk dalam pengangkutan oleh Dinas Lingkungan Hidup adalah sampah residu sesuai mekanisme pengelolaan yang berlaku,” katanya.

Atas persoalan tersebut, LSM SIDIK mendesak BGN turun langsung melakukan evaluasi terhadap pengelolaan sampah di seluruh SPPG yang beroperasi di Kabupaten Soppeng.

Mahmud meminta evaluasi tidak sebatas pemeriksaan administrasi, tetapi melihat langsung kondisi lapangan, termasuk bagaimana SPPG menangani sisa makanan, memilah sampah, menyimpan sampah sementara, hingga mekanisme pembuangannya.

“BGN perlu turun melakukan evaluasi dan memastikan seluruh SPPG benar-benar menjalankan ketentuan pengelolaan sampah dan sisa pangan. Jangan sampai persoalan kebersihan justru menjadi masalah baru di tengah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis,” tegasnya.

LSM SIDIK juga mengingatkan bahwa keberhasilan MBG tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak makanan yang dibagikan. Tata kelola dapur, kebersihan, kesehatan, pengelolaan sisa pangan, hingga dampak lingkungan juga harus menjadi bagian dari evaluasi.

Jika pengawasan hanya berhenti pada makanan yang keluar dari dapur, sementara sampah yang ditinggalkan luput dari perhatian, maka persoalan lingkungan berpotensi menjadi sisi lain dari pelaksanaan MBG yang perlu segera dibenahi.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari BGN maupun pengelola SPPG yang disorot terkait klaim dan desakan evaluasi yang disampaikan LSM SIDIK.

(Taufik)