Canvas.news Makassar—Penertiban lapak dan bangunan liar di sejumlah ruas jalan Makassar bukan hanya soal keindahan kota. Bagi warga, kebijakan ini membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di Jalan Alauddin, seorang ibu rumah tangga bernama Nurhayati mengaku kini lebih tenang saat mengantar anaknya ke sekolah. “Dulu kami harus turun ke badan jalan karena trotoar dipenuhi lapak. Sekarang anak-anak bisa berjalan dengan aman,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan oleh Andi, seorang penyandang disabilitas yang setiap hari menggunakan kursi roda. Ia menuturkan bahwa trotoar yang kembali lapang membuat mobilitasnya jauh lebih mudah. “Saya merasa dihargai. Trotoar memang hak kami juga,” katanya dengan senyum lega.

Warga lain, pedagang kaki lima yang terdampak penertiban, mengakui awalnya merasa berat. Namun sebagian mulai beradaptasi dengan lokasi baru yang disediakan pemerintah. “Kalau tertib, pembeli juga nyaman. Kami berharap bisa tetap mencari nafkah tanpa mengganggu orang lain,” ungkap seorang pedagang di Jalan Datuk Museng.

Namun di tengah dukungan luas masyarakat, muncul video hoaks yang menuding Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, tidak pro terhadap pedagang. Narasi palsu itu segera dibantah oleh warga yang menyaksikan langsung proses penertiban. Netizen ramai-ramai mengecam penyebar hoaks dan menegaskan bahwa kebijakan ini justru mengembalikan hak pejalan kaki serta penyandang disabilitas untuk menggunakan trotoar secara aman.

“Trotoar itu memang untuk pejalan kaki, bukan untuk lapak liar,” tulis salah satu komentar warganet.

Langkah tegas Pemkot Makassar ini sekaligus menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menciptakan ruang kota yang tertib, ramah, dan inklusif. Dukungan publik yang deras menunjukkan bahwa penertiban fasum bukan sekadar kebijakan, melainkan kebutuhan nyata demi kenyamanan bersama.