Canvas.news Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan mulai mengerucut dan menunjukkan arah yang semakin jelas. Dari total 30 suara yang terbaca, Wali Kota Makassar sekaligus Ketua DPD II Golkar Makassar, Munafri Arifuddin, unggul sementara dengan dukungan mayoritas.
Sebanyak 20 DPD II Golkar se-Sulsel telah resmi memberikan rekomendasi kepada Munafri. Dukungan ini memperkuat posisinya sebagai kandidat terkuat dalam perebutan kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel. Arus dukungan terhadap Munafri sejatinya telah mengalir sejak akhir 2025, ketika 19 DPD II menyatakan sikap mendukungnya. Kini, dukungan tersebut semakin solid dengan bertambahnya rekomendasi dari sejumlah daerah.
Meski demikian, keputusan final tetap berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Musda Golkar Sulsel yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026 akan menjadi ajang penentuan arah kepemimpinan partai berlambang beringin di Sulawesi Selatan. Musda ini bukan hanya sekadar forum pemilihan, tetapi juga momentum konsolidasi politik yang akan menentukan strategi Golkar menghadapi dinamika politik nasional maupun lokal ke depan.
Momentum silaturahmi Munafri dengan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, saat Idulfitri 1447 H, turut menjadi sorotan. Pertemuan tersebut dinilai bukan hanya menjaga hubungan kekeluargaan, tetapi juga memperkuat komunikasi politik dengan tokoh senior Golkar yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah dukungan. Kehadiran Jusuf Kalla sebagai figur sentral dalam sejarah Golkar memberi bobot tersendiri bagi langkah Munafri dalam menggalang konsolidasi.
Selain dukungan formal dari DPD II, Munafri juga disebut aktif melakukan pendekatan personal dengan sejumlah kader dan tokoh masyarakat. Strategi ini memperlihatkan bahwa ia tidak hanya mengandalkan rekomendasi struktural, tetapi juga berusaha membangun kepercayaan di akar rumput. Hal ini penting mengingat Golkar Sulsel memiliki basis massa yang besar dan beragam, sehingga kepemimpinan di tingkat provinsi akan sangat menentukan arah partai di masa mendatang.
Dengan dukungan mayoritas yang sudah dikantongi, Munafri kini berada di posisi unggul sementara. Namun, dinamika politik internal Golkar Sulsel masih terus berjalan. Sejumlah manuver politik dari kandidat lain masih mungkin terjadi, mengingat Musda selalu menjadi arena tarik-menarik kepentingan. Hasil akhir Musda akan menjadi penentu apakah Appi benar-benar berhasil mengamankan kursi Ketua Golkar Sulsel, atau justru muncul kejutan politik di menit-menit terakhir.
Musda Golkar Sulsel kali ini dipandang sebagai salah satu yang paling krusial dalam sejarah partai di daerah tersebut. Selain menentukan kepemimpinan baru, Musda juga akan menjadi barometer konsolidasi Golkar menghadapi Pemilu 2029. Dengan posisi Sulsel sebagai salah satu lumbung suara, arah kepemimpinan Golkar di provinsi ini akan memberi pengaruh signifikan terhadap peta politik nasional.




Tinggalkan Balasan