Canvas.news—Makassar kembali diuji oleh derasnya hujan di awal tahun 2026. Namun kali ini, wajah kota berbeda: genangan air yang biasanya bertahan berhari-hari, surut hanya dalam hitungan jam. Posko pengungsian yang sempat berdiri di delapan titik sejak 12 Januari, sebagian besar sudah ditutup keesokan harinya. Pada 13 Januari, hanya tersisa dua posko, dan sehari kemudian seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.
Wali Kota Makassar menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan kebetulan, melainkan buah dari kesiapan panjang. “Kunci utama penanganan banjir di Makassar hari ini adalah kesiapsiagaan, mitigasi, dan pencegahan. Semua itu sudah kita siapkan jauh sebelum hujan datang,” ujarnya.
Kerja kolaboratif lintas sektor menjadi fondasi. BPBD memimpin komando, Dinas PU menormalisasi sungai dan saluran air, DLH menjaga kebersihan lingkungan, Dinas Sosial melindungi warga terdampak, sementara relawan dan masyarakat bergerak serentak. Early Warning System (EWS) di titik rawan banjir juga diperkuat, sehingga warga dapat mengantisipasi lebih cepat.
Pendekatan baru menjadikan masyarakat bukan sekadar objek, melainkan subjek utama penanggulangan bencana. Mereka dilibatkan sejak tahap pencegahan hingga respon darurat. Hasilnya, banjir yang dulu identik dengan kepanikan kini ditangani dengan tenang dan terukur.
Sejak tahun lalu, BPBD telah menyusun Dokumen Rencana Kontinjensi untuk banjir, kekeringan, dan banjir rob. Dokumen ini menjadi panduan rinci operasi penanganan bencana, termasuk pembagian peran antar-OPD, kebutuhan sumber daya, dan mekanisme komando.
Keberhasilan penanganan banjir Januari 2026 menjadi bukti nyata bahwa kesiapsiagaan dan kolaborasi mampu menekan risiko bencana. Pemerintah Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antara pemerintah, aparat kewilayahan, relawan, dan masyarakat, demi menjadikan kota lebih tangguh menghadapi ancaman alam.




Tinggalkan Balasan