MAKASSAR, BKM — Tim SAR gabungan berhasil menemukan satu jenazah korban dalam operasi pencarian pesawat yang jatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung, Desa Tompobulu, Kabupaten Pangkep, Minggu (18/1). Jenazah berjenis kelamin laki-laki tersebut ditemukan di bawah tebing dengan kedalaman sekitar 200 meter dari titik awal penemuan serpihan pesawat.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, membenarkan penemuan tersebut. “Benar, kami menerima laporan penemuan satu jenazah. Saat ini korban masih dalam proses evakuasi dan jenis kelaminnya laki-laki,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar. Ia menuturkan bahwa korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di jurang yang cukup curam, berdekatan dengan serpihan pesawat.

Proses Evakuasi di Medan Ekstrem
Hingga sore hari, proses evakuasi masih berlangsung. Tim SAR menegaskan bahwa pencarian dilakukan dengan penuh kehati-hatian, mengingat kondisi medan yang ekstrem serta cuaca yang tidak bersahabat. Pada pukul 13.43 Wita, tim puncak melaporkan penemuan korban, kemudian tujuh personel tim aju diterjunkan melalui jalur pendakian untuk melakukan evakuasi.

Tak lama berselang, tim Search and Rescue Unit (SRU) 3 juga menemukan kepingan pesawat berupa bagian tangga dan kursi, yang memperkuat dugaan titik utama lokasi jatuhnya pesawat.

Identifikasi Korban
Untuk memastikan identitas korban, tim Biddokkes Polda Sulsel telah mengambil data ante mortem dari keluarga awak pesawat. Farhan Gunawan, adik kandung Co Pilot pesawat Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500, menjadi anggota keluarga pertama yang menjalani pemeriksaan di Makassar.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Raharjo Puro menegaskan bahwa koordinasi lintas instansi telah dilakukan, melibatkan Pangdam XIV/Hasanuddin dan Basarnas Makassar. Rumah Sakit Bhayangkara ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan untuk uji ante mortem, dengan dukungan tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri.

Posko Terdepan
Sebagai langkah strategis, pos aju atau posko terdepan didirikan di kawasan pencarian. Posko ini berfungsi sebagai pusat kendali operasi penyelamatan sekaligus koordinasi seluruh unsur yang terlibat.

Hingga kini, operasi pencarian dan evakuasi masih terus dilanjutkan. Tim SAR gabungan menghadapi tantangan berat akibat cuaca dan medan yang ekstrem, namun tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel dalam setiap langkah pencarian.