MAKASSAR — Dukungan publik terhadap pembangunan Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Makassar semakin menguat.

Hasil survei Parameter Publik Indonesia (PPI) menunjukkan bahwa 84 persen masyarakat setuju proyek strategis ini segera dituntaskan. Dari total 600 responden, hanya 3,8 persen yang menolak, sementara sisanya memilih tidak menjawab. Dukungan mayoritas ini menjadi legitimasi kuat bagi Pemerintah Kota Makassar untuk mempercepat realisasi PSEL.

Survei juga mengungkap preferensi lokasi pembangunan. Sebanyak 43,3 persen responden memilih TPA Tamangapa Antang, Kecamatan Manggala, sebagai lokasi paling tepat. Sementara 27,3 persen masih menginginkan proyek tetap di Tamalanrea, 6 persen memilih alternatif lain, dan 23,3 persen tidak memberikan jawaban.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa pembangunan PSEL di TPA Antang adalah pilihan paling efisien. Selain meminimalisasi biaya transportasi sampah, lokasi ini dinilai lebih aman secara sosial karena sudah lama difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir.

“Kalau kita bangun di lokasi baru, tentu membutuhkan biaya tambahan, terutama untuk transportasi sampah. Sementara kalau di TPA, jaraknya dekat, sehingga biaya pengangkutan bisa lebih efisien dan terkontrol,” ujar Munafri.

Munafri juga memastikan bahwa lokasi TPA Antang memenuhi syarat teknis, termasuk akses sumber air dari Sungai Kajenjeng yang berjarak sekitar satu kilometer.

Meski begitu, ia menekankan bahwa PSEL bukan satu-satunya solusi. Kontribusinya diperkirakan hanya sekitar 14–15 persen dari total penanganan sampah. Karena itu, langkah lain seperti penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) tetap harus berjalan paralel.

Dengan dukungan publik yang kuat dan kesiapan pemerintah, pembangunan PSEL di Makassar diharapkan menjadi tonggak transformasi menuju kota yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan. Selain mengurangi beban TPA, proyek ini juga membuka peluang energi baru sekaligus nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.